Masa remaja adalah fase kehidupan paling dinamis yang dialami semua orang. Kita bisa menyaksikan perubahan ajaib yang terjadi, mulai dari pubertas dan matangnya sel reproduksi, mulai merasakan jatuh cinta, sampai rasa ingin tahu yang besar. Tak heran rasanya jika remaja seringkali disebut sebagai manusia transisi atau pancaroba. Peralihan dari masa anak-anak menuju dewasa yang disertai perubahan fisik dan mental ini menjadikan remaja sebagai pihak yang rentan terhadap berbagai ekses, baik itu positif maupun negatif.

Pencarian identitas dan jati diri juga seringkali dikaitkan dengan remaja. Mereka mencari figur atau sosok yang dianggap mampu merepresentasikan siapa diri mereka sesungguhnya. Alhasil role model yang dijadikan contoh seringkali mempengaruhi sikap, cara pikir, dan tindakan yang dilakukan oleh remaja. Berbagai gaya hidup yang ditunjukkan remaja dewasa ini sebagian besar dipengaruhi oleh budaya Barat yang kerapkali menjadi acuan untuk menjadi remaja yang gaul dan kekinian.

Tak heran rasanya jika merokok, minum-minuman beralkohol, mencoba jarum suntik, sampai hubungan seksual di luar nikah pun dilakukan remaja atas dasar penasaran. Ya, remaja adalah manusia yang masih melakukan trial and error untuk menemukan siapa diri mereka sesungguhnya. Sayangnya karena filter dan moralitas remaja akan bahaya dari tindakan yang dilakukan belum terbentuk oleh keluarga, sekolah, dan lingkungan, remaja menjadi nekad dan akhirnya melakukan tindakan yang berdampak negatif bagi masa depan mereka.

Alhasil, rasa penasaran ini ditransfer menjadi satu bentuk eksperimen yang menyenangkan bagi mereka. Berawal dari coba-coba dan ajakan teman, akhirnya remaja ketagihan dan tidak bisa keluar dari jeratan gaya hidup negatif ini. Sangat disayangkan rasanya jika di usia yang masih muda, remaja harus mengalami pengucilan dan disisihkan dari keluarga akibat terkena HIV AIDS. Masa muda yang seyogianya diisi dengan kegembiraan untuk menyambut masa depan, justru dihabiskan dengan penyesalan dan derai tangis.

Melihat fenomena ini, kita sadar bahwa masalah HIV AIDS di kalangan remaja merupakan gunung es yang ada di bawah permukaan laut. Kita seringkali terjebak pada bagian yang muncul di permukaan, tanpa menyadari bahwa masalah sesungguhnya sangatlah kompleks dan besar. Maka dari itu, solusi yang ditawarkan sebagai upaya preventif pencegahan HIV AIDS di kalangan remaja harus menyentuh akar masalah dari banyaknya kasus HIV AIDS yang terjadi, yakni persepsi remaja itu sendiri.

Mengingat kita hidup di abad ke-21 dan remaja yang ada saat ini tergolong Millennial Generation yang sangat dekat dengan sentuhan teknologi, upaya pencegahan HIV AIDS tidak lagi berada tahapan pengawasan, seminar, penyuluhan, iklan, dan poster. Lebih dari itu, kita harus masuk pada tahapan strategis, yakni bagaimana remaja secara sadar menyadari bahaya HIV AIDS dan mampu membentengi dirinya sendiri tatkala berada dalam lingkungan pergaulan.

Mustahil rasanya kita bisa membatasi remaja hanya dengan memblokir konten porno di smartphones tatkala sumber kepornoan itu tersebar di semua media, mulai dari majalah, warnet, games, TV, CD, dan lain sebagainya. Demikian juga dengan gencarnya ceramah, penyuluhan, dan seminar tentang kesehatan reproduksi yang seringkali direspon remaja sebagai acara yang membosankan. Kita harus mengubah rasa penasaran remaja menjadi sesuatu yang produktif dan mampu memberikan sebuah kebanggaan bagi mereka.

Sebagai manusia, rasa penasaran itu wajar dan lazim adanya. Tatkala kita kecil, kita selalu bertanya segala sesuatu karena begitu banyak hal yang menarik perhatian kita. Demikian juga saat remaja, rasa penasaran itu semakin kuat dengan perkembangan informasi yang didapatkan. Tak heran jika orang tua tidak mampu menjawab pertanyaan remaja secara logis dan masuk akal, bisa jadi remaja akan mencari informasi tersebut melalui smartphones mereka. Sayangnya, informasi yang mereka dapatkan di internet seringkali tidak tepat dan akhirnya memicu pada figur diri yang salah.

Dewasa ini, remaja haruslah dibina dan diberi kepercayaan sebagai diri mereka sendiri. Tatkala rasa penasaran remaja akan apa rasa narkoba dan bagaimana kenikmatan hubungan seksual itu bisa dialihkan ke sektor minat dan bakat, bisa jadi keinginan untuk mencoba hal yang negatif tersebut akan berkurang dengan signifikan. Dalam hal ini, orang tua bisa memberikan role model dan iklim yang tepat untuk membentuk pola pikir remaja menjadi lebih matang dan terarah.

Ketika beranjak remaja, anak seyogianya dibawa orang tua untuk mengenal kesuksesan dan cara untuk mencapainya. Mereka bisa dikenalkan dengan pemilik usaha, musisi, penyanyi, dan berbagai figur lainnya yang merintis kesuksesan dari nol. Ketika remaja dibiasakan untuk bertemu dengan orang sukses, mereka umumnya akan merasa tertantang untuk mencoba melatih diri mereka menjadi sukses. Alih-alih mempunyai niat untuk menonton film porno, mereka justru akan memanfaatkan teknologi untuk mencari formula yang tepat untuk mencapai kesuksesan.

Pembiasaan dan pembentukan iklim sukses ini bukan hanya berlaku di sekolah, tetapi juga di rumah sekalipun. Remaja diajak untuk mengikuti berbagai kompetisi, melakukan kerja kelompok, sampai berdiskusi tentang minat dan bakat mereka. Tatkala pikiran mereka sudah dipenuhi dengan konten yang positif, dengan sendirinya mereka akan sadar bahwa menghabiskan waktu di depan komputer untuk melihat bokep adalah aktivitas yang tidak berguna. Mereka justru akan mencari banyak kegiatan positif yang dapat mengembangkan minat dan bakat mereka ketimbang memakai jarum suntik.

Lebih dari itu, tatkala remaja sudah mengenali bakat yang mereka miliki, orang tua dan sekolah seyogianya mendukung dan memberikan mereka motivasi. Arahkan remaja juga pada jalur yang tepat, sehingga mereka bisa mengembangkan diri mereka menjadi lebih baik. Tatkala itu terjadi, sekolah dan lingkungan sudah berhasil mengubah rasa penasaran menjadi pemasaran yang baik bagi remaja. Remaja merasa dihargai, diakui, dan dibanggakan sebagai orang yang bertalenta, bukan orang yang bermasalah dan rutin dipanggil guru BK.

Saat remaja menyadari bahwa bakat mereka bisa dijual, mereka akan sadar bahwa menjadi orang yang berdampak itu jauh lebih nikmat ketimbang melakukan perbuatan yang dilarang oleh norma sosial dan agama. Lebih dari itu, mereka juga memiliki figur diri yang jelas dan mereka bisa “menjualnya” menjadi sesuatu yang bernilai ekonomis. Sebagai contoh, kita bisa melihat Isyana Sarasvati sebagai remaja yang mampu mengubah rasa penasaran jadi pemasaran bagi dirinya sendiri.

Meskipun Isyana menempuh pendidikan di Inggris yang notabene termasuk dalam negara Eropa yang mempunyai citra pergaulan yang bebas, Isyana tetap berada pada jalur yang ia yakini, yakni musik. Tak heran jika Isyana mampu keluar sebagai remaja yang bertalenta dan membanggakan Indonesia dalam karya-karyanya. Saat remaja bisa diajak mengenali bakat yang mereka miliki, tentu upaya preventif HIV AIDS di kalangan remaja bukanlah hal yang sulit untuk dilakukan.

Sebagai kaum muda yang pernah berada pada fase remaja, rasa penasaran itu memang alamiah adanya. Hanya saja, penyaluran dan pelampiasan atas rasa penasaran itulah yang kerapkali keliru. Tatkala sekolah dan lingkungan sudah menjadi inkubator pencetak remaja bertalenta dengan pengarahan yang tepat, rasa penasaran itu bukanlah ancaman, melainkan sebuah peluang untuk membentuk citra diri remaja yang positif. Mereka sadar bahwa diri mereka berharga dan akhirnya mereka bisa memasarkan bakat mereka menjadi sesuatu yang bernilai.

Persoalannya bukan terletak pada apa, melainkan bagaimana mengolah rasa penasaran itu menjadi pemasaran. Itulah kunci utama dalam meluruskan benang kusut bernama penyakit HIV AIDS di kalangan remaja. Tatkala remaja bisa menjadi figur sehat yang bertalenta, maka bukan mustahil teman-teman mereka akan ikut tertantang untuk menjadi sehat, aktif, dan bertalenta karena lingkungan menularkan kebiasaan yang baik. Seperti kata pepatah, buah dikenal dari pohonnya.

Tentang Penulis:

Juara Tulisan 10 Terbaik LOLIPOP

Daniel Hermawan, Mahasiswa Universitas Katolik Parahyangan (UNPAR), Bandung

0 Likes
628 Views

Leave A Comment

Please enter your name. Please enter an valid email address. Please enter message.