Bicara soal label remaja sehat, artiannya bukan sekedar remaja dengan tubuh bugar saja. Definisi remaja sehat adalah mereka yang memiliki gaya hidup bersih dan aman, jauh dari dampak buruk yang mematikan masa mudanya. Ketika remaja paling rentan dengan isu hamil di luar nikah, aborsi, kekerasan seksual, candu narkoba, bahaya penyakit menular seksual atau HIV/AIDS, edukasi—-terlebih soal seksualitas—-bukan lagi pilihan melainkan kewajiban. Namun bagaimana menempatkan diri menerima pendidikan seks ketika lingkungan tak memberi solusi untuk kita memperolehnya?

Ada sebuah aturan yang lama-lama menjadi budaya di negeri ini yaitu untuk memberlakukan rasa sungkan setiap kali membicarakan tentang seks. Saya menyebutnya kultur pasif. Ketika saya berusia lima belas tahun, obrolan tentang seks di lingkungan sekolah bukan saja hal yang tabu tapi juga memunculkan stigma-stigma buruk dan prasangka. Saya ingat ketika saya di umur itu, saya langsung menghakimi mereka yang membicarakan seks sebagai seseorang yang nakal, jorok dan terlalu lancang.

Guru-guru pun tak banyak membantu selain hanya menanamkan pentingnya pendidikan agama untuk mengalihkan segala ketertarikan membahas isu seks. Sementara orangtua yang seharusnya menjadi tokoh pemandu utama juga sama pasifnya. Jadi bayangkan bagaimana saya kebingungan mendapati banyaknya pertanyaan di dalam otak saya ketika nilai-nilai yang berlaku di lingkungan malah menyuruh saya untuk diam dan tidak lanjut bertanya.

Syukurlah kemudian saya beranjak dewasa di era internet dimana untuk mencari informasi edukasi soal apapun, tinggal mencari di halaman Google. Saya juga bertemu lebih banyak orang lagi yang mau diajak bertukar pikiran, membaca buku dan akhirnya secara lepas berdiskusi tentang isu kesehatan seksual yang tepat. Namun saya rasa, era digital yang berperan membantu proses edukasi belumlah cukup. Saya mungkin baru mendapat pendidikan seks setelah lepas dari usia 18 (dan sampai sekarang pun saya masih belum berhenti mencari pembelajaran) tapi bagaimana dengan para remaja rentang usia 13-20 yang hanya memanfaatkan internet untuk media hiburan saja? Ketika mereka tak terpanggil untuk mencari-cari informasi soal seksualitas, maka pendidikan seks masih dianggap tak begitu penting apalagi berpengaruh untuk hidup mereka.

Padahal remaja adalah kalangan yang paling haus pengarahan soal seksualitas. Walau saya pribadi lebih melarang seks tidak aman ketimbang seks bebas, karena menurut saya seks adalah soal kebebasan hak dan kebebasan itu harus tergantung pada kedewasaan pilihan orang-orang tersebut secara pribadi.

Itulah kenapa seharusnya pendidikan seks pentingnya setara dengan pendidikan agama. Kenapa iman harus dididik dan ditelaah namun seksualitas tidak? Harus dipahami bahwa seksualitas adalah bagian yang tak terpisahkan dari manusia itu sendiri dimana pembentukan sikap dan penguasaan oleh individu sangat diperlukan.

Maka menjadi jelas bahwa pendidikan seks adalah hak untuk dihadirkan di Indonesia. Ketika pengenalan soal reproduksi saja tidak ada bagaimana mau mencari tahu soal informasi mendalam terkait dampak-dampak buruk yang bisa disebabkan olehnya seperti penyebaran HIV/AIDS?

Banyak juga yang salah mengartikan membicarakan tentang seksualitas secara terbuka adalah tentang membicarakan pengalaman pribadi diri sendiri dan membaginya pada semua orang. Tentu bukan itu maksudnya—-itu berbeda lagi karena pengalaman seks ada dalam wilayah privacy dan hak orang tersebut untuk membagi atau memilih tidak menceritakannya. Edukasi seks yang dilakukan secara terbuka disini lebih pada adanya pengenalan dan pemahaman yang tidak sepotong-potong soal informasi kesehatan seksual serta mendapat opsi-opsi untuk mencegah dampak buruknya.

Meski sulit memulainya secara terbuka di sebuah negeri yang terlalu malu untuk membicarakannya di forum publik, ini bisa dimulai dari lingkungan pertama seorang anak yaitu keluarganya sendiri. Orangtua harus menjadi orang pertama yang membuat anak merasa nyaman untuk mengobrol soal seks dan itu bisa dimulai sejak usia dini. Kecenderungan banyak orangtua di Indonesia yang sibuk melarang ketimbang memberi pemahaman harus dihilangkan karena inilah penyebab utama anak-anak kemudian malas membagi keluh-kesah pubertasnya. Orangtua harus berperan menjadi teman, bukan seseorang yang menakuti atau memarahi atas pertanyaan-pertanyaan baru.

Selain lingkungan keluarga yang membiasakan diskusi seksualitas sebagai sesuatu yang tidak tabu, lingkungan kedua yang harus berperan tentu adalah sekolah. Ini miris sebenarnya karena sebuah keajaiban di Indonesia bila pihak sekolah mau memberikan edukasi seks terang-terangan pada muridnya. Pendidikan seks dan kaitannya dengan pengenalan kondom sebagai cara mencegah kehamilan masih ditempeli stempel seks bebas sehingga persoalan ini biasanya jarang direncanakan oleh pihak guru. Masih untung bila ada guru yang berpikiran terbuka untuk mau membuka ruang diskusi, namun ini akan sangat jarang ditemukan kecuali di beberapa institusi sekolah saja.

Untuk itulah saya sangat menyarankan  para remaja agar aktif mencari tahu. Caranya sangat mudah sekarang karena ada internet : selain Google untuk sejuta pertanyaan kita, ikuti beberapa akun Twitter yang membagi edukasi soal seks seperti kicauan @ZoyaAmirin seorang psikolog seks Indonesia atau @Lolipoptweet_id yang cukup informatif menyikapi permasalahan remaja dan korelasinya dengan isu seksualitas.

Bisa juga  bergabung dengan suatu organisasi di kota kalian atau terjun langsung menjadi volunteer-nya. Dengan cara-cara tersebut, kita bukan saja dapat berinteraksi dengan banyak orang, namun bisa mendapat perspektif-perspektif baru sebelum menentukan pilihan dan cara pandang diri sendiri soal seks.

Pada akhirnya, label “remaja sehat” seharusnya tak lagi sempit dimaknai sebagai “tidak terpengaruh pergaulan bebas”.  Remaja sehat adalah definisi remaja yang paham kesehatan reproduksi secara menyeluruh, yang tahu apa dampak buruknya seks tanpa pengaman, yang juga berkuasa sepenuhnya tentang hak seksualitasnya sendiri. Percayalah bahwa aktifnya diri kita juga akan mempengaruhi peranan lingkungan ketika lingkungan masih kental oleh kultur yang pasif.

Tentang penulis:

Juara 1 Lomba Menulis LOLIPOP

Maudy Puteri Agusdina, dari Komunitas Film Dasawarna Pictures.

2 Likes
553 Views

Comments are closed.