Saya adalah mahasiswa biasa, dengan segala rutinitas dan dinamika hidup di kota Bandung, saya menjalani keseharian dengan gaya hidup anak muda yang kekinian, menurut saya tidak ada salahnya karena prestasi saya sebanding dengan gaya hidup yang awut-awutan, begadang, dugem, mengkonsumsi alkohol, merokok, pola makan tidak sehat, hingga ikut dalam kegiatan free sex, mindset saya pada waktu itu adalah “study hard, party harder”. Pada suatu ketika saya iseng saja ingin melakukan tes HIV, niatan tersebut muncul tiba-tiba tanpa ada dorongan dari siapapun. Mungkin pengaruh dari sifat sombong karena pada saat itu saya merasa sedang berada di puncak, lingkaran pertemanan yang gaul, nilai akademis yang baik, dan gaya hidup yang foya-foya, bagi saya tidak ada yang tidak mungkin dan tidak ada yang dapat menghentikan saya untuk berbuat apa saja yang saya inginkan.

Nasib berkata lain, hasil tes yang keluar pada saat itu cukup mencengangkan. “Reaktif” adalah kata yang terpapar dalam amplop yang saya buka, dengan rasa penasaran saya bertanya kepada dokter di klinik tersebut tentang arti dari kata yang asing itu, dengan simpel bu dokter menjawab pertanyaan saya itu dengan kata “Anda Positif”. Ingatkah kalian saat saya berkata saya sedang berada di puncak? Beberapa menit yang lalu saya memang memiliki mindset itu, dengan seketika saya sadar bahwa justru sebaliknya, gaya hidup yang telah saya jalani selama ini sebenarnya menarik saya jatuh ke titik terendah dalam hidup.

Depresi dan frustasi, sungguh ironi saat mengetahui kebenarannya, seketika saya merasa saya bukan siapa-siapa, seakan-akan sang pencipta menegur saya karena kesombongan saya, seakan-akan saya dibenci dan tidak diberikan kesempatan untuk dapat hidup dengan bahagia di dunia ini, perasaan dan pikiran saya pada saat itu dipenuhi penyesalan dan keputus-asaan, beribu pertanyaan ingin saya lontarkan, tapi kepada siapa? Pantaskah teman-teman yang selama ini menemani saya dalam pergaulan saya percayakan untuk menjadi tempat curhat? Layakkah orang tua yang selama ini mengurus saya dan membiayai saya dari kecil hingga sekarang saya kecewakan? Mungkinkah saya akhiri saja kehidupan saya? Ah, sungguh saat itu saya merasa sangat tersesat.

Saya mencoba kembali ke klinik VCT (Voluntary Counselling and Testing), disana saya diberi arahan untuk mengikuti penyuluhan tentang HIV yang akan diadakan dalam waktu dekat. Tidak ada pilihan lain. saya rasa tidak ada salahnya bertemu dengan kawan-kawan sesama ODHA (Orang Dengan HIV-AIDS), pada penyuluhan tersebut saya bertemu dengan dr. Niken, pembicara yang merupakan dokter yang bertanggung jawab atas Klinik VCT di RS Ujung Berung. Beliau menyarankan untuk setiap penderita agar selalu semangat, tidak berkecil hati, dan mau mengikuti pengobatan ARV (Anti Retroviral) yang tersedia secara gratis di seluruh Rumah Sakit di Indonesia. Beliau menekankan bahwa walaupun HIV tidak dapat disembuhkan, kualitas hidup dan kesehatan seseorang dapat dipertahankan melalui pengobatan ARV secara teratur.

Saya dididik oleh orang tua untuk selalu menjadi yang terbaik, di kampus saya bisa menjadi yang terbaik, di pergaulan (yang kekinian itu) saya pun menjadi si tergaul, Singkat cerita saya memutuskan untuk mengikuti program ARV bersama dr. Niken di RS Ujung Berung, berkaitan dengan didikan orang tua saya tadi, saya tidak akan tunduk dan menyerah terhadap virus yang telah tinggal selama-lamanya didalam dalam tubuh saya. Saya mencari cara untuk bisa berkawan dengan virus HIV, karena saya pikir tidak ada gunanya menyesali, satu-satunya jalan iyalah terus melangkah ke depan dan menjadi lebih baik dari hari kemarin. Dengan terpaksa saya pun mengikuti segala prosedur mulai dari pengambilan sampel darah di laboratorium, rontgen paru-paru, pengecekan kondisi tubuh dan tekanan darah, serta konsultasi empat mata dengan sang dokter saya jalani sebagai awal dari proses pengobatan ARV.

Sudah 3 bulan saya mengikuti pengobatan ini, kesehatan saya berangsur-angsur membaik, tanpa disadari gaya hidup saya berubah. yang lucunya adalah, semenjak saya berkawan dengan HIV, saya merasa lebih sehat. Saya berhenti merokok, saya berhenti minum minuman beralkohol, saya berhenti begadang, saya berhenti dugem, saya berhenti makan makanan yang tidak sehat, saya berhenti free sex, dan yang paling membahagiakan adalah, saya menemukan seseorang yang mencintai saya justru saat setelah saya memberi tahu bahwa saya adalah lelaki dengan virus HIV. Saya sangat bersyukur dan bahagia dengan kehidupan yang saya jalani sekarang.

Kawan-kawan sekalian, mungkin ini terdengar biasa, namun apa yang ingin saya bagi ke kawan-kawan semua, terutama para ODHA diluar sana yang masih menutup diri, mungkin inilah cara tuhan mengembalikan kita ke jalan-NYA, inilah cara tuhan mempertemukan kita dengan cinta-NYA, inilah cara tuhan untuk menunjukkan kebesaran dan kasih sayang-NYA kepada kita semua, hanya soal bagaimana caranya kita dapat memahami dan menyadari bahwa kasih sayang tuhan kepada kita sungguhlah besar. Segeralah mencari pertolongan dan jangan malu untuk melakukan konsultasi di rumah sakit dan klinik-klinik VCT terdekat di kota Bandung. Kita semua berhak untuk hidup sehat, kita semua berhak untuk hidup bahagia.

Tentang penulis:

Juara 3 Lomba menulis LOLIPOP

MDD, ITENAS Bandung

2 Likes
435 Views

Leave A Comment

Please enter your name. Please enter an valid email address. Please enter message.